Pembangunan SIDA Berbasis Kakao di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumbar
daerah, feature 23.54
Potensi pengembangan Kakao dan Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota perlu terus dikembangkan mengingat kedua produk tersebut merupakan komoditas utama Sumatera Barat. Demikian pendapat dari berbagai lembaga dan kalangan terkait di Provinsi Sumatera Barat pada acara “Forum Diskusi Terfokus” di Kantor Gubernur Sumatera Barat, pada hari Kamis, 17 Februari 2011 yang lalu.
Forum dihadiri oleh instansi terkait di Provinsi Sumbar, antara lain Bappeda Provinsi dan Kabupaten, SKPD, DRD, Universitas Andalas, Politani, dan Tim Kementerian Riset dan Teknologi.
“Fokus program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi adalah pengembangan Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDA),” ujar Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian, Masrizal, mengawali sambutan.
Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno dalam arahannya menekankan bahwa Kesepakatan Bersama yang telah berakhir pada tahun 2010 antara Menteri Riset dan Teknologi dengan Gubernur Sumatera Barat tentang Pengembangan dan Implementasi Iptek untuk Peningkatan Kemajuan Daya Saing Provinsi Sumatera Barat segera ditindaklanjuti. Gubernur juga berharap permasalahan ketersediaan listrik dan air di lokasi ATP di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat diatasi.
Peserta forum mengharapkan implementasi dan penerapan teknologi akan terus dikembangkan sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk. Oleh karena itu bimbingan, fasilitasi, dan pendampingan dari Kemenristek sangat diperlukan. Pihak terkait di Sumatera Barat yaitu Universitas Andalas, Dewan Riset Daerah (DRD) diharapkan dapat menindaklanjuti kerjasama ini ke depan khususnya dalam pengelolaan komoditas utama Sumatera Barat.
Dalam kesempatan ini Asdep Jaringan Iptek dan Daerah, Hotmatua Daulay juga menyampaikan laporan perkembangan kerjasama yang sudah dilaksanakan selama ini antara lain mengenai Pengembangan Konsep Pembangunan Agro Techno Park (ATP) di Kabupaten Lima Puluh Kota yang secara spesifik mengembangkan penerapan teknologi pasca panen dan pengolahan Gambir dan Kakao, Pengembangan Teknologi Pengolahan Kakao dan Sarana Prasarana dan Pelatihan Teknologi Fermentasi Kakao.
Selain melakukan forum diskusi, rombongan Kemenristek juga melakukan pertemuan dengan Bupati Lima Puluh Kota, Alis Marajo. Alis menyampaikan bahwa tujuan akhir bukan hanya jumlah MoU tetapi yang lebih penting adalah terjalinnya sinkronisasi kebijakan daerah. Peran pemerintah adalah mengakomodir kebutuhan masyarakat, sebagai pelayan masyarakat. Teknologi baru yang berkembang perlu didukung oleh kebijakan daerah yang terkait dengan pengembangan iptek. Untuk itu perlu disusun mekanisme, tahapan implementasi baik melalui kordinasi, integrasi dan sinergi antar unit tekait. Selain keterbukaan dibutuhkan dalam implementasi program, yang diawali dengan sosialisasi serta rincian tugas dan tanggung jawab perlu disusun sehingga tahu jelas siapa melakukan apa dan kapan.
Beberapa langkah telah diambil dalam pengembangan komoditas Kakao dan Gambir yaitu pengembangan budaya kearifan lokal, fasilitasi pendampingan petani, asistensi teknis dalam proses adopsi teknologi pengolahan Kakao dan Gambir dan pengembangan kawasan terpadu untuk budidaya nya. Saat ini, 5 daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota telah mampu mengolah Kakao dan Gambir.
Kunjungan kerja tim Kementerian Riset dan Tekmologi yang terdiri dari Asdep Jaringan Iptek Pusat dan Daerah, Hotmatua Daulay, Asdep Pendayagunaan IKM, Santosa Yudo W, Asdep Kompetensi Kelembagaan, I Wayan Budiastra, Asdep Budaya dan Etika, Vemmie Diana, Asdep Pendayagunaan Masyarakat, Sadiyatmo, yang dipimpin oleh Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian, Masrizal, diakhiri dengan peninjauan ke lokasi ATP Lima Puluh Kota, melihat secara nyata permasalahan yang dihadapi oleh pihak ATP maupun petani dalam mengolah Kakao dan Gambir. (AD-5/Dep-1/THM/humasristek) www.ristek.go.id












