Riau Menuju Negeri Industri
daerah 19.43
Kalau dilihat indikator ekonomi yang selalu dipakai oleh para ekonom untuk menilai kemajuan suatu negara ataupun daerah, Riau termasuk negeri yang selalau berada di atas rata-rata nasional. Nilai investasi, neraca keuangan maupun neraca perdagangan Riau selalu bergerak positif, jauh melampaui daerah lain di Sumatera ataupun di Pulau Jawa. Hanya beberapa provinsi seperti DKI Jakarta dan Kalimantan Timur saja yang selalu berada di atas Riau. Karena itu wajar kalau Riau selalu dikategorikan sebagai sebuah negeri kaya-raya.
Kekayaan negeri Riau akan potensi sumberdaya alam memang tidak diragukan lagi. Dari sebuah perusahaan raksasa saja yaitu PT Chevron Passific Indonesia telah berhasil dikeruk kekayaan minyak Riau di atas 11 miliar barrel yang jika dihitung dengan harga minyak sekarang yang sudah mendekati 100 dolar AS per barrel, akan ditemukan angka rupiah yang sangat besar. Belum lagi termasuk, gas, timah, bouksit, pasir, kayu, sawit, karet, kelapa, ikan, rotan dan semua barang yang diekspor ke manca negara, tidak mengherankan jika negara selalu mendapat devisa negara melalui Riau dalam jumlah yang tidak sedikit.
Namun sayangnya nilai investasi yang mampu membuka lapangan pekerjaan baru secara berkelanjutan bagi rakyat Riau yang terjepit di tengah-tengah kekayaan alam yang tereksploitasi itu semakin kecil dan merisaukan. Oleh karena itulah angka kemiskinan rakyat Riau terus saja berada dalam posisi yang cukup memprihatinkan. Jurang antara orang kaya (the have) dengan orang miskin (the have not) akan semakin mendalam. Hal inilah yang selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan para ilmu-ilmu sosial. Ternyata devisa negara yang berjumlah miliaran dolar Amerika itu tidak kembali ke Riau. Devisa negara yang besar itu banyak mengendap di luar negeri dan beredar justru di luar Riau.
Untuk membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak tamatan sekolah maupun perguruan tinggi tempatan ke depan, kita tidak mungkin lagi hanya mengandalkan potensi sumberdaya alam yang sudah semakin menipis. Kita memang sudah seharusnya mengubah mindset atau pola pikir para pemegang teraju di negeri ini maupun para politisi, ilmuwan dan semua pemangku kepentingan (stake holder) yang ada di Riau untuk beralih dari mengandalkan kekayaan sumberdaya alam kepada hasil karya cipta (inovasi) anak-anak bangsa berupa pengaplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apapun.
Hanya inovasi hasil karya cipta anak-anak bangsalah berupa barang dan jasa yang akan memberi nilai tambah secara berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional. Karena itu pembangunan industri yang berbasis teknologi yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik anak-anak bangsa sangat diperlukan bagi Riau dan juga Indonesia secara keseluruhan. Di sinilah peranan dan tanggung jawab Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Riau harus didudukkan agar masalah besar bangsa bisa dipecahkan.
Mambangun sebuah sistem yang disebut dengan sistem inovasi daerah (SIDA) memang sangat penting dan menentukan masa depan. Sinergi antara semua pihak pemangku kepentingan benar-benar sangat diperlukan dalam rangka membangun dunia industri. Selama ini ada kesan semua pemangku kepentingan berjalan sendiri-sindiri. Sektor keuangan dan berbankan berjalan sendiri, sektor pendidikan berjalan sendiri, sektor perdagangan dan industri berjalan sendiri, dunia usaha dan swasta berjalan sendiri, ilmuwan dan teknokrat berjalan sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dihasilkan dalam rangka mencapai tujuan besar nasional yaitu mencipta lapangan pekerjaan baru bagi anak-anak bangsa dan sekaligus menciptakan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Membangun dunia industri saya anggap merupakan sesuatu hal yang sangat penting dan menentukan masa depan. Setiap desa seharusnya memiliki komoditas yang dapat dihasilkan oleh masyarakat desa yang bersangkutan yang bisa menjadi kebanggaan desa tersebut. Motto One village one product perlu kita dengungkan kembali untuk menambah semangat dan keyakinan bahwa setiap desa harus memiliki barang dan jasa yang mampu dihasilkan oleh rakyat di desa itu yang bisa menunjang ekonomi masyarakat desa secara keseluruhan.
Produk yang dihasilkan bukan saja berupa kekayaan alam, melainkan juga berupa hasil karya buatan manusia yang diperlukan oleh msyarakat secar luas, sehingga ketergantungan Indonesia terhadap barang-barang impor menjadi semakin berkurang. Devisa negara yang dengan susah payah kita raih seharusnya tidak dihabiskan hanya untuk membeli barang-barang luar negeri yang seharusnya dapat dihasilkan oleh putra-putra bangsa sendiri di dalam negeri.
Untuk memulai kerja besar ini, Balitbang Provinsi Riau sengaja mengundang Prof Dr Ing Eko Supriyanto dari Universitas Teknologi Malaysia, kelahiran Jawa Barat untuk melakukan hubungan kerja sama dalam memproduksi USG Sipemandu, yaitu suatu alat yang dapat mendeteksi perkembangan janin dalam rahim ibu. Alat ini bisa dipakai oleh para bidan di desa-desa atau puskesmas-puskesmas di ibukota kecamatan untuk melihat perkembangan janin dan ibunya, sehingga keselamatan ibu dan anak dapat diupayakan secara dini. Alat ini juga sangat membantu upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) dalam rangka mencapai MDGs yang memadai.
Prof Dr Eko adalah salah seorang ilmuwan produktif tamatan ITB Bandung dan bekerja puluhan tahun di Jerman. Dia telah menemukan dan mendapatkan 14 buah hak paten dari hasil temuan ilmiahnya, yang salah satu hasil temuan tersebut adalah alat USG protable ini yang canggih dan dapat digunakan dengan mudah oleh para pemakainya. Harga alat ini akan jauh lebih murah jika diproduksi di dalam negeri dibandingkan dengan USG impor buatan Cina atau pun Korea. Alat ini bisa diproduksi di Riau atas kerja sama semua pihak terkait antara lain Balitbangkes Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi Riau,Rumah sakit, Puskesmas, dan para bidan, Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Politeknik Caltex Rumbai serta tentu saja Pemerintah Daerah dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota se-Riau.
Kita juga mengundang perusahaan-perusahaan besar di Riau seperti PT Chevron Pasific Indonesia, PT RAPP, PT Indah Kiat, PT Perkebunan Nusantara, serta perusahaan-perusahaan besar lainnya untuk membentuk sebuah konsorsium dalam rangka menunjang pembangunan industri USG tersebut. Inilah sebenarnya yang maksud dengan sistem inovasi daerah, yaitu membangun sebuah sinerji antara pemerintah daerah, para imuwan dan teknokrat, lembaga perguruan tinggi, dunia usaha, pihak swasta, sehingga sebuah inovasi besar hasil karya putra bangsa yang berguna bagi kesejateraan rakyat dapat diproduksi dalam kurun waku yang tidak terlalu lama.
Dengan cara itulah Insya Allah dunia industri bisa berkembang di bumi persada nusantara. Kerja sama seperti ini sebenarnya sudah dilakukan oleh negara-negara industri terkemuka dunia seperti Cina, Jepang, Korea selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia dan negara-negara industri terkemuka lainnya. Kita berharap alat ini tidak saja bisa dipakai di Riau dan di Indonesia, melainkan juga suatu saat bisa diekspor ke manca negara, sehingga Riau benar-benar akan menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan msyarakat yang agamis sejahtera lair dan batin di kawasan Asia Tenggara tahun 2020.
Andaikan alat ini bisa kita produksi pada akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012, insya Allah berbagai produk lainnya seperti sepeda listrik, alat-alat elektronik, industri hilir kelapa sawit, kelapa sagu, karet, serta berbagai produk dari kulit dan beranekara ragam industri kreatif anak-anak bangsa akan dapat kita bangun di Riau. Kita berharap pada tahun 2020 setiap desa di Riau akan memiliki industri yang menghasilkan barang dan jasa yang bisa menjadi andalan dan kebanggaan masyarakat desa masing-masing. Dengan cara itulah Insya Allah Riau bisa menjadi negeri Industri terkemuka di Indonesia dan bahkan di kawasan Asia Tenggara tahun 2020. Insya Allah. Amin.*** Tengku Dahril [riaupos.co.id]












